Rangkaikan titik demi titik di atas kertas ini. Rangkaian itu kini menjadi garis. Susun ulang garis tersebut menjadi suatu bentuk kurva yang lebih teratur. Kurva-kurva tersebut adalah setiap fragmen kenangan dalam hidup.
Membangun kembali kenangan masa lalu memberikan sensasi yang berbeda-beda. Satu bagian cerita hidup terkadang meminta dirinya untuk tidak dibangun kembali. Tidak. Jangan sekali-sekali lagi mencobanya. Terkubur ia dalam-dalam di palung hati. Sementara bagian lainnya seperti tak tertahankan untuk dapat dihidupkan kembali.
Kuberada di persimpangan pilihan.
Kenangan ini meronta, menjerit, memanggilku untuk dapat kembali dibawa masuk ke dalam kehidupan. Sementara diri ini menolaknya.
Perang! Hati dan pikiran tidak lagi menyatu. Duel klasik antara Nurani dan Logika tak dapat terhindarkan.
Di satu saat, pernah Nurani berada di ambang kemenangan. Logika semakin terpojok dengan manuver-manuver tak terduga dan cenderung irasional (namanya juga nurani) yang dilancarkan Nurani. Logika tidak berada di posisi yang menguntungkan.
Namun, di saat lain, ketika Logika telah mendapat kejernihannya, Nurani menjadi laksana bayangan oasis di tengah padang pasir: murni sebuah fatamorgana.
Pertarungan sengit ini serasa tidak akan pernah berakhir. Setidaknya hingga hari itu.
Nurani yang lain memasuki medan perang: sebut saja sebagai Rasa. Pintu lain dari hati ini terketuk. Selayaknya nurani, Logika tak dapat merasionalkan tindakan Rasa. Mengira akan kalah dalam perang karena menghadapi dua bentuk nurani, ternyata Logika salah. Dalam perang ini, Rasa ternyata berpihak pada Logika.
Logika meng-KO Nurani dengan bantuan Rasa. Kenangan lama yang sebelumnya meronta untuk masuk ke dalam kehidupan kini kembali merangsek ke sisi hati yang tak terlihat. Tetaplah menjadi satu kenangan dalam hidup ini yang senantiasa mendewasakan diri.