Dua puluh dua tahun yang lalu, tahun 1986, seorang remaja tanggung berusia 14 tahun bersama tiga orang teman sekolahnya memutuskan membentuk suatu grup musik. Kala itu, ketika teman-teman seumuran mereka gandrung membawakan musik-musik metal seperti Judas Priest dan Iron Maiden, mereka malah memainkan musik-musik seperti Toto yang lebih ngepop. Seiring dengan jalannya waktu, musik jazz pun mulai dirambah oleh anak-anak muda ini dengan pengaruh musisi luar seperti Chick Corea, Casiopea, ataupun Uzeb.
Dalam waktu yang relatif singkat, mereka menjadi cukup terkenal di kalangan terbatas karena acap kali menjadi juara festival-festival band dan juga menyabet predikat-predikat individual seperti bassis terbaik, keyboardis terbaik, dll. Mereka berharap dapat menjadi seperti Krakatau ataupun Karimata, dua band jazz yang amat kondang ketika itu. Namun, layaknya pemuda dengan pencarian jati diri, rupanya musik jazz hanya persinggahan saja. Mimpi mereka berubah, seiring dengan berkibarnya Slank di pasaran. Mereka kini berusaha menyatukan pop, rock, serta jazz dalam musiknya.
Lima tahun berikutnya, tahun 1991, sepertinya mimpi menjadi musisi profesional mulai tergambar. Bermodal pinjaman uang 10 juta rupiah, mereka membuat demo rekaman. Karena tidak adanya studio yang layak, mereka terpaksa harus ke Jakarta untuk membuat demo.
Tahun 1992, setelah perjuangan mendapatkan label rekaman, akhirnya album pertama mereka siap diluncurkan. Album itu bertitel "Dewa 19". Ya, band itu adalah Dewa 19 atau yang kini bernama DEWA tanpa embel-embel 19. Dan si remaja tanggung itu adalah Andra Junaidi Ramadhan, satu dari dua founding fathers DEWA yang tersisa.
Bersama DEWA, Andra telah menelurkan empat album di periode tahun 1990-an. Pada periode tersebut, Andra memiliki seorang teknisi gitar. Seperti selayaknya job describtion seorang teknisi, ia selalu mendampinginya baik di studio maupun ketika melakukan live performance di atas panggung. Ia mengecek kesiapan gitar-gitar, efek, serta amplifier sebelum semuanya dipakai oleh Andra. Bertahun-tahun menjadi 'tangan ketiga dan keempat' Andra, si teknisi tersebut lebih mendalami teknik bermain gitarnya dari Andra.
Teknisi tersebut bernama Satriyo Yudi Wahono. Nama tersebut memang terdengar asing bagi sebagian besar dari kita. Tapi kalau tahun nama panggilannya, kita semua pasti ngeh. Nama panggilannya adalah Piyu. Ya, teknisi Andra pada periode 1990-an adalah Piyu, think-tank dari Padi.
Saya tertarik menulis tentang Andra Ramadhan setelah melihat konser kolaborasi di Sabuga semalam. Malam itu Andra tampil bersama band sideproject-nya, Andra and the Backbone. Dalam konser malam itu juga tampil Ussy di awal serta Padi sebagai penutup.
Tadi malam, dengan sangat apik, Andra and the Backbone membawakan satu lagu Padi, Sobat. Andra melakukan sedikit aransemen ulang di lagu Sobat, terutama pada bagian gitar solo yang menjadikan lagu itu lebih 'galak'. Sebuah effort yang layak dipuji dari gitaris sekelas Andra ketika memberikan sentuhan baru pada sebuah lagu yang diciptakan oleh band bentukan mantan teknisinya itu.
Yang saya coba soroti adalah saya menangkap adanya sedikit kepongahan dalam diri Piyu ketika Padi seperti 'ogah-ogahan' membawakan lagu Musnah milik Andra and the Backbone. Lagu Musnah dibawakan dengan sangat 'biasa' oleh Padi dengan aransemen yang tidak diubah sama sekali. Ada kesan kecil yang saya tangkap: "Padi kan udah lebih lama dari Andra and the Backbone. Males ah bawain lagu mereka!"
Penampilan yang sebenarnya sangat apik dari Padi malam itu, dengan beberapa lagu di-aransemen ulang serta di-medley, agak tercoreng bagi saya dengan penampilan-setengah-hati Padi membawakan Musnah. Akan jauh lebih baik jika mereka tidak membawakanya sama sekali.
Sangat ironis memang posisi Andra Ramadhan malam itu. Di satu sisi, ia adalah seorang rocker kawakan dengan pengalaman belasan tahun di industri rekaman Indonesia. Namun, di sisi lain, dengan sideproject-nya, Andra memang masih terhitung pendatang baru mengingat baru menelurkan album di tahun 2007. Penempatan Andra tampil sebelum Padi sendiri membuat saya sedikit miris. "Jrit! Ini Andra man! Gurunya Piyu! Tapi malah tampil ngebuka Piyu."
Padahal dengan 'hilang'-nya Pay, mantan gitaris Slank, praktis Andra-lah kini gitaris rock yang paling berpengalaman dan paling eksis dalam industri musik rock Indonesia. Yah, tapi memang mungkin seperti inilah yang dinamakan industri. Sejarah serta pengalaman kerap kali dinafikan oleh hal bernama industri.
Untungnya, pada kolaborasi akhir ketika seluruh personel Padi dan Andra and the Backbone tampil bersama di atas satu panggung, Andra kembali mendapatkan tampuknya. Membawakan satu lagu Jimi Hendrix, penampilan terakhir tersebut menjadi layaknya workshop gitar rock. Andra, Piyu, Tepi, dan Ari secara bergantian melakukan sesi gitar solo. Menurut saya, entah karena subjektivitas seorang yang mengikuti perkembangan Andra, penampilan gitar solo Andra-lah yang paling oke. Dengan porsi gitar solo tambahan di tengah lagu, mengokohkan posisi Andra sebagai gitaris yang paling hebat malam itu.