 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Tanggal 1 November 2004, Hank Deerfield (Tommy Lee Jones), seorang pensiunan Polisi Militer menerima telepon. Mike Deerfield, anak bungsunya telah mangkir dari kamp militer. Padahal, Hank sendiri belum tahu kalo anaknya itu sudah pulang dari Irak, lokasi di mana ia ditugaskan. Menunggu kabar yang tak kunjung datang, Hank lalu berniat mencari sendiri anaknya yang hilang itu. Ia lalu meninggalkan Joan Deerfield (Susan Sarandon), istrinya, di rumah dan segera bergegas menuju Kota Bradford.
Dari situlah cerita pencarian ayah terhadap anaknya ini dimulai. Hank lalu bertemu Det. Emily Sanders (Charlize Theron) di Kepolisian Bradford. Beberapa hari kemudian, Mike Deerfield ditemukan dalam keadaan tewas, terbakar dan terpotong-potong. Investigasi yang lebih mendalam akhirnya dilakukan.
Film "In the Valley of Elah" ini disutradarai oleh Paul Haggis. Haggis sebelumnya menyutradarai film "Crash" di tahun 2004. Melalui "Crash", Haggis memperoleh penghargaan Best Director di ajang Oscar tahun 2006. Selain Haggis, tiga bintang utama di film ini juga adalah para pemenang Oscar. Tommy Lee Jones memperoleh penghargaan Best Supporting Actor melalui film "The Fugitive" di tahun 1993, sementara Charlize Theron memenangkan Best Actress dalam film kontroversial "Monster" di tahun 2003. dan yang terakhir Susan Sarandon menjadi Best Actress di film "Dead Man Walking" pada tahun 1995.
Dengan menggalang kekuatan empat pemenang Oscar, "In the Valley of Elah" yang diangkat berdasarkan kejadian yang sebenarnya ini, menjanjikan kualitas akting serta penyutradaraan yang layak diacungi dua jempol.
Nampaknya Paul Haggis sebagai sutradara dan penulis skenario sangat tertarik mengangkat isu-isu yang cukup berani. Di film "Crash", ia mengangkat isu rasial yang ternyata masih sangat kental di kalangan masyarakat AS. Melalui film terbarunya ini, Haggis mengangkat isu anti-war. Di film ini, kerap ditampilkan akibat yang dapat ditimbulkan kepada mental para prajurit yang dikirimkan ke Irak.
Memang, perang bukanlah jawaban atas berbagai permasalahan di dunia ini. Itu hanyalah solusi politis praktis yang membalut kepentingan 'tangan-tangan yang tak terlihat'.   Kemarin saya kebetulan beli majalah TIME edisi Asia. Duh! Gaya amat ya beli-nya TIME. Ini adalah kali pertama saya membeli majalah itu. Saya beli karena lagi edisi dobel bundel ada bonus TIME Style & Design.
Oke lah, yang lebih penting adalah di TIME ada artikel kecil yang yg ngebahas ttg pemenang-pemenang Oscar 2007 kemarin terutama kategori Aktor Terbaik, Aktris Terbaik, Aktor Pembantu Terbaik, serta Aktris Pembantu Terbaik. Setelah baca artikel kecil itu saya baru tersadarkan kalo pemenang Best Actors dan Best Actresses Oscar taun ini tuh smuanya orang-orang Eropa.
Aktor Terbaik Daniel Day-Lewis dan Aktris Pembantu Terbaik Tilda Swinton adalah orang Inggris. Aktris Terbaik Marion Cotillard adalah seorang Perancis. Sedangkan Aktor Pembantu Javier Bardem adalah aktor Spanyol.
Saya tidak akan menyoroti penilaian juri mengenai cocok tidaknya hasil tersebut. Saya hanya ingin menulis di sini bahwa hal tersebut br pertama kali terjadi pada delapan tahun terakhir pelaksanaan Oscar. Yah, setidaknya itu yang saya temukan ketika melakukan penelitian kecil ttg Oscar di wikipedia. Saya menulusuri pemenang-pemenang Oscar dari tahun 2000.
Untuk kategori Aktor Terbaik: Totally so-American category! Sebelum Daniel Day-Lewis ternyata hanya Russel Crowe orang non-Amerika yang berhasil memenangkan Kategori ini. Russel Crowe menang melalui perannya sebagai Maximus Decimus Meridius di film "Gladiator" pada tahun 2000. Di antara Crowe dan Day-Lewis bergantian enam orang Amerika memenangkan kategori ini: Denzel Washington, Adrien Brody, Sean Penn, Jamie Foxx, Philip Seymour Hoffman, dan tahun lalu Forest Withaker. Berarti delapan tahun terakhir ini pertama kali seorang Eropa memenangkan Aktor Terbaik, karena Russel Crowe adalah aktor kelahiran Selandia Baru. Dialah Daniel Day-Lewis melalui peran sebagai Daniel Plainview di "There Will Be Blood".
Untuk kategori Aktris Terbaik, dari Oscar tahun 2000 hingga Oscar 2005 tidak ada orang Eropa yang memenangkannya. Helen Mirren dan Marion Cotillard (peran sebagai Edith Piaf di film "La Vie en Rose") adalah dua wanita Eropa yang memenangkan kategori ini dua tahun berturut-tutut. Akankah tahun depan Aktris Terbaik kembali mendarat ke Eropa?
Sementara untuk Aktor Pembantu, dari Oscar 2000 sampai Oscar 2006, peraih Aktor Pembantu dari kalangan Eropa hanya ada satu: Jim Broadbent di tahun 2001 melalui film Iris. Baru Oscar 2007 Javier Bardem sebagai Anton Chigurh di "No Country for Old Men" menjadi orang Eropa kedua dalam delapan tahun terakhir yang meraih kategori ini. Tahun lalu, Alan Arkin memenangkan kategori ini melalui film "Little Miss Sunshine"
Terakhir, Aktris Pembantu Terbaik. Kategori ini cukup banyak dimenangkan oleh orang Eropa meskipun belum menggeser dominasi aktris-aktris Amerika. Catherine Zeta-Jones di Oscar 2002 dan Rachel Weisz di Oscar 2005 adalah dua pendahulu Tilda Swinton yang menang lewat film "Michael Clayton" sebagai Karen Crowder.
Terobosan besar ketika Marion Cotillard memenangkan Oscar untuk penampilan non-bahasa-inggris. Itu adalah kali kedua setelah Sophia Loren memenangkan kategori yang sama melalui film berbahasa Italia berjudul "Two Women". Sudah saatnya Oscar yang selama ini dinilai sebagai penghargaan film yang amat berorientasi ke Hollywood mulai menggeser pandangannya ke bagian-bagian lain bumi ini.
Gambar: http://www.news.com.au/common/imagedata/0,,5909529,00.jpg ki-ka: Daniel Day-Lewis, Tilda Swinton, Marion Cotillard, Javier Bardem   | Category: | Music | | Genre: | Classic Rock | | Artist: | Meat Loaf |
review lama, diambil dr Friendster
Dari dulu banget gua selalu pengen denger album yang cukup fenomenal ini. Kenapa? Pertama, gua sangat menikmati musik rock. Kedua, musik rock balada dengan sentuhan piano yang kental amat menambah kenikmatan gua menikmati musik rock.
Tapi baru Juni 2007, hampir 30 tahun setelah album Bat Out of Hell rilis dan terjual lebih dari 37 juta kopi hanya di lima negara, gua bisa denger dua album ini full. Modal download dari internet..
Back to the review..
Gosh! Album ini emang oke banget! Tarikan vokal si Meat Loaf yang bisa melengking, dan pada beberapa kesempatan lain justru serak-serak gahar, membuat album ini layak menjadi tonggak rock balada, dan lebih dari cukup untuk menjadikan Bat Out of Hell menjadi album yang amat berpengaruh di era 1970-an.
Harmonisasi sound gitar vintage, dentingan piano di sepanjang album, progresi lagu yang dinamis, nuansa teatrikal yang kental, serta kekuatan vokal Meat Loaf menjadi komposisi yang nyaris sempurna.
Mendengarkan album ini seperti berada dalam sebuah film dengan berbagai adegan dari kejar-kejaran yang menegangkan, suasana romantis bersama seorang wanita idaman, dan suasana kontemplasi di saat hanya kita dan kita sendiri berada di dalamnya..
Sekali lagi gua bilang ini album keren banget!!!   | Category: | Books | | Genre: | Romance | | Author: | Haruki Murakami |
review lama, diambil dr Friendster
Actually, it is not the last book i read, but it's the most memorable so far.. Buku ini mantab!! Padahal gua ga punya ni novel, cuma modal pinjeman dari teman.. Awalnya tertantang ama cover versi Indonesianya yg oke banget, bendera Jepang gitu deh..
Ternyata eh ternyata, WOW!! Seperti baca katalog karya-karya keren dari masa lalu: dari novel, pengarang, lagu, pokonya karya-karya keren lah! Norwegian Wood membuat saya mencari-cari novel The Great Gatsby selama berbulan-bulan. Akhirnya ketemu, meski belum terbaca..
Sebuah buku yang lugas, lantang, serta vulgar.. Novel gila tentang orang-orang 'gila' lah!
And you know what, the ending is still a riddle for me..   | Category: | Music | | Genre: | Other | | Artist: | The Clash |
review lama yg diambil dr Friendster..
Another classic album, released in 1979, great content, great cover, great history. gua udah denger tentang album ini dari jaman SMP brarti udah lebih dari 9 tahun yg lalu tapi baru dpt kesempatan ngedengerin full bbrp hari ini aja. Punk, Ska, Reggae!
The coloring and layout of this album is really inspired by Elvis Presley's Self-titled album which released in March, 1956.. A legend for a legend..
Satu cerita di balik cover album yg sangat terkenal ini. Di akhir sebuah konser The Clash, Paul Simonon, sang bassis merasa kecewa dengan penampilan kala itu. Kemudian Simonon membanting bassnya sambil meninggalkan panggung. Pennie Smith, seorang fotografer, menangkap momen tersebut dengan kameranya. Smith sendiri sebenarnya tidak ingin karyanya yang satu ini digunakan, ia merasa terlalu out-of-focus. Namun, Joe Strummer, sang vokalis sekaligus front-man mengatakan bahwa foto tersebut akan sangat cocok dijadikan cover album.
Awalnya gua ngira album ini tuh berisik banget, kayak album-album punk Sex Pistols, yang membutuhkan cukup banyak usaha untuk bisa menikmatinya.. Ternyata ngga banget. Lagu-lagu di album ini cukup singalong, dan soundnya jg ga sehingar bingar yang gua kira sebelumnya.. Album London Calling ini berada di nomer 8 dalam daftar 500 album terbaik sepanjang masa versi Majalah Rolling Stone..
You must listen to this kewl album!!   | Category: | Movies | | Genre: | Classics |
akhirnya kesampean juga nntn niy film.. sebuah karya thrilling yang amat orijinal dari rajanya film-film thriller, oom Alfred Hitchcock..
baru tau gua ternyata Disturbia-nya Shia La Beouf amat terinspirasi film ini.. dua2-nya sama2 menampilkan tokoh utama yg terkondisikan stuck di kamarnya..
Bedanya kalo di Disturbia tuh si Shia La Beouf tuh ga bisa kemana2 gr2 ada sensor dr polisi. Nah kalo di Rear Window ini, si James Stewart stuck gr2 kakiknya abis patah dan digips sepanjang kaki kirinya..
Si tokoh utama, namanya LB Jeffries, yg stuck di kmrnya selama hampir 2 bulan secar ga sengaja menangkap suatu kejadian yg dilakukan tetangganya melalui jendela apartemennya.. Cerita ini jg yg diadaptasi langsung ama Disturbia.. 
| |