Reno's posts with tag: music
 | Superman | Jun 13, '08 12:23 AM for everyone |
So here I am growing older all the time looking older all the time feeling younger in my mind
And here I am doing everything I can holding on to what I am pretending I'm a superman Controlling everything in site I'm feeling weak I don't feel right you're telling me I have to change telling me to act my age but if all that I can do is just sit and watch time go then I'll have to say good-bye life's too short to watch it fly to watch it fly So here I am growing older all the time looking older all the time feeling younger in my mind
And here I am doing everything I can holding on to what I am pretending I'm a superman
Taken from Superman Goldfinger
Released on March 1997 (Hang-Ups)
Dua puluh dua tahun yang lalu, tahun 1986, seorang remaja tanggung berusia 14 tahun bersama tiga orang teman sekolahnya memutuskan membentuk suatu grup musik. Kala itu, ketika teman-teman seumuran mereka gandrung membawakan musik-musik metal seperti Judas Priest dan Iron Maiden, mereka malah memainkan musik-musik seperti Toto yang lebih ngepop. Seiring dengan jalannya waktu, musik jazz pun mulai dirambah oleh anak-anak muda ini dengan pengaruh musisi luar seperti Chick Corea, Casiopea, ataupun Uzeb.
Dalam waktu yang relatif singkat, mereka menjadi cukup terkenal di kalangan terbatas karena acap kali menjadi juara festival-festival band dan juga menyabet predikat-predikat individual seperti bassis terbaik, keyboardis terbaik, dll. Mereka berharap dapat menjadi seperti Krakatau ataupun Karimata, dua band jazz yang amat kondang ketika itu. Namun, layaknya pemuda dengan pencarian jati diri, rupanya musik jazz hanya persinggahan saja. Mimpi mereka berubah, seiring dengan berkibarnya Slank di pasaran. Mereka kini berusaha menyatukan pop, rock, serta jazz dalam musiknya.
Lima tahun berikutnya, tahun 1991, sepertinya mimpi menjadi musisi profesional mulai tergambar. Bermodal pinjaman uang 10 juta rupiah, mereka membuat demo rekaman. Karena tidak adanya studio yang layak, mereka terpaksa harus ke Jakarta untuk membuat demo.
Tahun 1992, setelah perjuangan mendapatkan label rekaman, akhirnya album pertama mereka siap diluncurkan. Album itu bertitel "Dewa 19". Ya, band itu adalah Dewa 19 atau yang kini bernama DEWA tanpa embel-embel 19. Dan si remaja tanggung itu adalah Andra Junaidi Ramadhan, satu dari dua founding fathers DEWA yang tersisa.
Bersama DEWA, Andra telah menelurkan empat album di periode tahun 1990-an. Pada periode tersebut, Andra memiliki seorang teknisi gitar. Seperti selayaknya job describtion seorang teknisi, ia selalu mendampinginya baik di studio maupun ketika melakukan live performance di atas panggung. Ia mengecek kesiapan gitar-gitar, efek, serta amplifier sebelum semuanya dipakai oleh Andra. Bertahun-tahun menjadi 'tangan ketiga dan keempat' Andra, si teknisi tersebut lebih mendalami teknik bermain gitarnya dari Andra.
Teknisi tersebut bernama Satriyo Yudi Wahono. Nama tersebut memang terdengar asing bagi sebagian besar dari kita. Tapi kalau tahun nama panggilannya, kita semua pasti ngeh. Nama panggilannya adalah Piyu. Ya, teknisi Andra pada periode 1990-an adalah Piyu, think-tank dari Padi.
Saya tertarik menulis tentang Andra Ramadhan setelah melihat konser kolaborasi di Sabuga semalam. Malam itu Andra tampil bersama band sideproject-nya, Andra and the Backbone. Dalam konser malam itu juga tampil Ussy di awal serta Padi sebagai penutup.
Tadi malam, dengan sangat apik, Andra and the Backbone membawakan satu lagu Padi, Sobat. Andra melakukan sedikit aransemen ulang di lagu Sobat, terutama pada bagian gitar solo yang menjadikan lagu itu lebih 'galak'. Sebuah effort yang layak dipuji dari gitaris sekelas Andra ketika memberikan sentuhan baru pada sebuah lagu yang diciptakan oleh band bentukan mantan teknisinya itu.
Yang saya coba soroti adalah saya menangkap adanya sedikit kepongahan dalam diri Piyu ketika Padi seperti 'ogah-ogahan' membawakan lagu Musnah milik Andra and the Backbone. Lagu Musnah dibawakan dengan sangat 'biasa' oleh Padi dengan aransemen yang tidak diubah sama sekali. Ada kesan kecil yang saya tangkap: "Padi kan udah lebih lama dari Andra and the Backbone. Males ah bawain lagu mereka!"
Penampilan yang sebenarnya sangat apik dari Padi malam itu, dengan beberapa lagu di-aransemen ulang serta di-medley, agak tercoreng bagi saya dengan penampilan-setengah-hati Padi membawakan Musnah. Akan jauh lebih baik jika mereka tidak membawakanya sama sekali.
Sangat ironis memang posisi Andra Ramadhan malam itu. Di satu sisi, ia adalah seorang rocker kawakan dengan pengalaman belasan tahun di industri rekaman Indonesia. Namun, di sisi lain, dengan sideproject-nya, Andra memang masih terhitung pendatang baru mengingat baru menelurkan album di tahun 2007. Penempatan Andra tampil sebelum Padi sendiri membuat saya sedikit miris. "Jrit! Ini Andra man! Gurunya Piyu! Tapi malah tampil ngebuka Piyu."
Padahal dengan 'hilang'-nya Pay, mantan gitaris Slank, praktis Andra-lah kini gitaris rock yang paling berpengalaman dan paling eksis dalam industri musik rock Indonesia. Yah, tapi memang mungkin seperti inilah yang dinamakan industri. Sejarah serta pengalaman kerap kali dinafikan oleh hal bernama industri.
Untungnya, pada kolaborasi akhir ketika seluruh personel Padi dan Andra and the Backbone tampil bersama di atas satu panggung, Andra kembali mendapatkan tampuknya. Membawakan satu lagu Jimi Hendrix, penampilan terakhir tersebut menjadi layaknya workshop gitar rock. Andra, Piyu, Tepi, dan Ari secara bergantian melakukan sesi gitar solo. Menurut saya, entah karena subjektivitas seorang yang mengikuti perkembangan Andra, penampilan gitar solo Andra-lah yang paling oke. Dengan porsi gitar solo tambahan di tengah lagu, mengokohkan posisi Andra sebagai gitaris yang paling hebat malam itu.
Jadi, sehabis dari show Mocca Road to Campus di GSG Marnath (bersama Raka, Dinar, Fera, Sasky, dan Tika), saya nyeletuk, "Unpar Kita?" Awalnya Raka ragu, takut udah keabisan ERK dan sepertinya dia juga ragu karena jam 3 pagi harus berangkat ke Jakarta atas undangan Presiden SBY. Tapi, sewaktu di parkiran sambil mengantar Fera ke mobilnya, Raka malah melantunkan lagu "Cinta Melulu" dan ditimpali oleh Fera dan Dinar. Lalu saya bilang ke mereka, "Yah, dia nantang sih.. Hayu atuh kita ke Unpar!" Mendadak kami (tinggal bertiga bersama Dinar dan Raka saja, yang lain pulang..) jadi bersemangat deh nonton ERK di GSG Unpar. Ternyata keputusan ke Unpar tidak saya sesali sedikit pun. Penampilan ERK sangat magical (berlebihan ya?). Dibandingkan ketika saya lihat ERK tanggal 26 April di Eldorado, penampilan semalam lebih memuaskan. Berikut adalah sepuluh alasan kenapa show ERK tadi malam di GSG Unpar lebih memuaskan dibanding ketika di Eldorado (tanpa urutan prioritas): - Jumlah lagu yang dibawakan lebih banyak (tadi malam 9 lagu, Eldorado 8 lagu)
- Lagu "Cinta Melulu" dan "Belanja Terus Sampai Mati (BTSM)" dinyanyikan tadi malam
- Crowd yang relatif lebih sedikit, jadi lebih dekat rasanya
- ERK lebih hangat kepada penonton ketimbang waktu di Eldorado (mungkin faktor crowd yg lebih sedikit)
- Cholil tidak mengalami masalah jack gitar yang mengakibatkannya lupa lirik di lagu "Di Udara" pada pemungkas acara
- Acara yang jauh lebih murah. Di Eldorado saya bayar Rp100.000 (dpt band yang lebih banyak sih). Tadi malam di GSG Unpar, gratis bradr!
- Cholil membagikan sticker ERK dan alhamdulillah saya mendapatkannya
- Saya berkesempatan untuk ngobrol sedikit dgn Cholil yang ternyata sangat ramah
- Aksesibilitas lebih tinggi. Bandingkan mengakses GSG Unpar dr Tubagus Ismail dengan mengakses Eldorado yang adanya masih di atas Terminal Ledeng
- Overall, performa ERK semalam lebih pol-polan ketimbang ketika di Eldorado
| Start: | May 8, '08 8:00p | | Location: | GSG Unpar |
Suatu acara yg dibikin FISIP UNPAR, teuing apa nama acaranya.. Ada yg mau dateng?
Senyum menyungging di sudut bibir 'Karolina' Sebuah 'Senyum dari Selatan' nun jauh di sana Senyum nan memerikan sketsa yang tergoreskan dalam kisahnya Sketsa yang indah, kisah yang bahagia, namun hanya baginya
'Ernestito' kian tersudut Hanya bisa 'Merintih Perih' dalam sendiri Rintihan pilu yang membuat sendu Laksana '400 Elegi' yang senantiasa bertutur
Kala itu tepat jam 'Setengah Lima' Senandung 'Come By Sanjurou' mulai mengalun Ernestito menjadi 'Layu' dibuainya
Pudar, harapan kini telah pupus Sikap 'Apatis Ria' dan penuh skeptisme Fana sudah 'Essensimo' dalam hidup Inilah akhir bagi Ernestito
Tidak! Seorang 'Vrijeman', dengan pikir serta ujar yang bebas Tak gentar dikungkung oleh pragmatisme dan ilusi Ernestito memilih terus melaju Melangkah di tengah 'Bogor Biru'
nb: sedang keracunan Ports of Lima (Hati-hati! Gunakan sesuai dosis. Memiliki efek candu bagi sebagian orang)
Sebenarnya banyak yang ingin ditulis soal Ports of Lima Concert td malam tp lg agak2 malas bermain dengan pilihan kata dan kaidah menulis yg benar dan betul, jadi posting lirik dua lagu favorit dulu deh.. Merintih Perih (written by Reza Dwiputranto)
Saling.. Saling tindih menindih Kerap kali mendidih Hingga mencapai perih Lalu dibaluti luka Luka yang penuh duka Sudah terasa sudah Terlalu menghiasi
Rintihan selalu Terdengar menggebu Yang terasa pilu Dan membuat sendu
In 1997 the Bullet was Shy (written by Ade Paloh)
Sinful recognition in my life Goes without no one Goes when those foes gone
When my ignorance is biting Those friends will not go down But friends has surely found me
I do refuse to be abused by The sickening conclusion The defeaning delusion Of life that once I've known Of life that once might have grown
By now, resolution is aging I fell from my own game The game for all to shame
Where did we come from? Why are we here? Where do we go when we die? What lies beyond? And what laid before? Is anything certain in life? They say, life is too short, The here and the now And you're only given one shot But could there be more? Have I lived before? Or could this be all that we've got? Taken from The Spirit Carries On Dream Theater
Released on October 1999 (Metropolis Pt. 2: Scenes from a Memory)
| Start: | Mar 16, '08 4:00p | | Location: | Sabuga Convention Hall, Bandung |
Jantung keras berdegup
Panggung kokoh berdiri
Lighting terang berkilau
Distorsi garang meraung
Vokal lantang melengking
Adrenalin kencang terpacu
Lumpur lekat bercampur
Siliwangi hangat bergoyang
Heavy metal belum akan mati
i must get out once in a while everything is starting to die the dust settles the worms dig the spiders crawl over the bed i must get out once in a while i eat all day and i now i am fat yesterday's meal is hugging the plate you never wash up after yourself 
Thom Yorke
Released on September 1994 (My Iron Lung EP)
She looks like the real thing She tastes like the real thing My fake plastic love But I can't help the feeling I could blow through the ceiling If I just turn and run And it wears me out, it wears me out And if I could be who you wanted If I could be who you wanted All the time, all the timeTaken from Fake Plastic Trees radiohead Released on March 1995 (The Bends & Fake Plastic Trees single)
| Start: | Mar 14, '08 8:00p | | Location: | Sabuga Convention Hall, Bandung |
Toto is back! Group asal Amerika ini akan kembali menggelar aksinya di Indonesia. Dan kali ini giliran Surabaya dan Bandung yang akan disinggahi. Dalam Konser yang bertajuk "Falling In Between Live" World Tour 2008 ini, TOTO akan membawakan lagu-lagu dari album terbarunya "Falling In Between Live", selain itu mereka juga akan memainkan Hits dunianya seperti: Africa, Rosanna, Pamela, I’ll Be Over You, I Will Remember, Stop Loving You dan lainnya. Formasi TOTO kali ini adalah Steve Lukather (Guitars, Vocals), Bobby Kimball (Vocals), Leland Sklar (Bass), Simon Phillips (Drums), Greg Phillinganes (Keyboards, Vocals), Tony Spinner (Guitars). Nah buruan beli tiketnya, jangan sampai kehabisan! Tiket: VVIP: Rp. 300.000 VIP: Rp. 200.000 KELAS 1 Rp. 75.000 FESTIVAL: Rp. 100.000
| Start: | Mar 9, '08 7:00p | | Location: | Stadion Siliwangi |
Kabar gembira untuk para penggemar musik metal! Band lawas yang cukup kondang, Skid Row, akan melakukan konser di 5 kota di Indonesia yaitu Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Malang. Band yang lahir pada 1986 di Jersey ini digawangi oleh Sebastian "Baz" Bach (Lead Vocals), Dave "The Snake" Sabo (Gitar), Scotti Hill (Gitar), Rachel Bolan (Bas) and Rob Affuso (Drum), sedangkan saat mengguncang Indonesia inilah formasinya John Solinger (vokal), Rachel Bolan (bass), Scotti Hill (guitar), David Gara (Drum), dan Ryan Cook (Guitar). HTM: IDR30.000
I've been watching your world from afar I've been trying to be where you are and I've been secretly falling apart, unseen..
To me, you're strange and you're beautiful You'd be so perfect with me but you just can't see. You turn every head but you don't see me.
Sometimes the last thing you want comes in first Sometimes the first thing you want never comes But I know, that waiting is all you can do Sometimes
I'll put a spell on you you fall asleep I'll put a spell on you and when I wake you I'll be the first thing you see, and you'll realize that you love me | Strange and Beautiful (I'll Put A Spell On You) | | Strange and Beautiful | | Aqualung | |
 | Category: | Music | | Genre: | Classic Rock | | Artist: | Meat Loaf |
review lama, diambil dr Friendster
Dari dulu banget gua selalu pengen denger album yang cukup fenomenal ini. Kenapa? Pertama, gua sangat menikmati musik rock. Kedua, musik rock balada dengan sentuhan piano yang kental amat menambah kenikmatan gua menikmati musik rock.
Tapi baru Juni 2007, hampir 30 tahun setelah album Bat Out of Hell rilis dan terjual lebih dari 37 juta kopi hanya di lima negara, gua bisa denger dua album ini full. Modal download dari internet..
Back to the review..
Gosh! Album ini emang oke banget! Tarikan vokal si Meat Loaf yang bisa melengking, dan pada beberapa kesempatan lain justru serak-serak gahar, membuat album ini layak menjadi tonggak rock balada, dan lebih dari cukup untuk menjadikan Bat Out of Hell menjadi album yang amat berpengaruh di era 1970-an.
Harmonisasi sound gitar vintage, dentingan piano di sepanjang album, progresi lagu yang dinamis, nuansa teatrikal yang kental, serta kekuatan vokal Meat Loaf menjadi komposisi yang nyaris sempurna.
Mendengarkan album ini seperti berada dalam sebuah film dengan berbagai adegan dari kejar-kejaran yang menegangkan, suasana romantis bersama seorang wanita idaman, dan suasana kontemplasi di saat hanya kita dan kita sendiri berada di dalamnya..
Sekali lagi gua bilang ini album keren banget!!! 
 | Category: | Music | | Genre: | Other | | Artist: | The Clash |
review lama yg diambil dr Friendster..
Another classic album, released in 1979, great content, great cover, great history. gua udah denger tentang album ini dari jaman SMP brarti udah lebih dari 9 tahun yg lalu tapi baru dpt kesempatan ngedengerin full bbrp hari ini aja. Punk, Ska, Reggae!
The coloring and layout of this album is really inspired by Elvis Presley's Self-titled album which released in March, 1956.. A legend for a legend..
Satu cerita di balik cover album yg sangat terkenal ini. Di akhir sebuah konser The Clash, Paul Simonon, sang bassis merasa kecewa dengan penampilan kala itu. Kemudian Simonon membanting bassnya sambil meninggalkan panggung. Pennie Smith, seorang fotografer, menangkap momen tersebut dengan kameranya. Smith sendiri sebenarnya tidak ingin karyanya yang satu ini digunakan, ia merasa terlalu out-of-focus. Namun, Joe Strummer, sang vokalis sekaligus front-man mengatakan bahwa foto tersebut akan sangat cocok dijadikan cover album.
Awalnya gua ngira album ini tuh berisik banget, kayak album-album punk Sex Pistols, yang membutuhkan cukup banyak usaha untuk bisa menikmatinya.. Ternyata ngga banget. Lagu-lagu di album ini cukup singalong, dan soundnya jg ga sehingar bingar yang gua kira sebelumnya.. Album London Calling ini berada di nomer 8 dalam daftar 500 album terbaik sepanjang masa versi Majalah Rolling Stone..
You must listen to this kewl album!! 
| |