Reno's posts with tag: quotes corner

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag quotes corner
Blog EntryChildrenMay 31, '08 1:04 PM
for everyone
My friend, children aren't coloring books..

You don't get to fill them with your favorite colors..


[The Kite Runner, the movie]

Blog EntryThese Quotes [Part Deux]Apr 10, '08 6:48 PM
for everyone
Olimpiade dan China

Sulit bagi China untuk memisahkan masalah Tibet dengan olimpiade yang akan mulai digelar di Beijing pada 8 Agustus mendatang.

Krisis kemanusiaan dan politik di Tibet telah mewarnai persiapan Olimpiade Beijing. Paling tidak, perarakan obor olimpiade di London dan Paris dikacaukan para demonstran antikekerasan dan pelanggaran hak-hak asasi manusia di Tibet. Di Los Angeles, Amerika Serikat, terjadi hal serupa.

Selain demonstrasi saat perarakan obor olimpiade, juga muncul seruan untuk memboikot Olimpiade Beijing. Memang, tidak ada negara yang secara tegas akan memboikot. Presiden Perancis Nicolas Sarkozy menyatakan tidak akan menghadiri acara pembukaan. Senator Hillary Clinton mendesak Presiden George W. Bush untuk tidak menghadiri acara pembukaan Olimpiade 2008 itu. Jerman menyatakan akan menghentikan perundingan dengan China mengenai pembangunan ekonomi.

Kita sepakat bahwa olahraga memang harus bebas dari politik. Oleh karena itu, olimpiade pun harus bebas dari campur tangan politik. Bukankah olahraga menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, sportivitas, kejujuran, kesamaan, toleransi, dan kesederajatan antarsesama. Memang ada kompetisi, ada persaingan, tetapi semuanya dilandasi oleh sportivitas dan kejujuran.

Oleh karena itu, aksi-aksi kekerasan untuk menghalangi atau mencemari olimpiade tidak sesuai dengan nilai-nilai dan semangat olimpiade. Demikian juga segala bentuk aksi kekerasan dan pelanggaran nilai-nilai kemanusiaan, seperti yang terjadi di Tibet oleh China, akan juga mencederai nilai-nilai dan semangat olimpiade.

Kita memang tidak berharap politik akan mencampuri olimpiade. Akan tetapi, pada saat yang sama, kita juga berharap China bisa dengan cepat dan secara damai menyelesaikan masalah Tibet agar tidak menodai pelaksanaan olimpiade yang sebenarnya merupakan pengejawantahan dari peradaban manusia. Mencederai olimpiade dalam segala bentuknya berarti mencederai peradaban manusia.


Tajuk Rencana KOMPAS
Rabu, 9 April 2008

Blog EntryCerita Sepeda MotorMar 23, '08 3:02 AM
for everyone

Sabtu kemarin saya hendak pergi ke acara farewell-nya Puri, seorang teman lama yang tinggal di daerah Meruya. Kebetulan, di rumah lagi ga ada mobil yg bisa diberdayakan untuk menemani saya menuju rumah Puri. Padahal seringnya, tiap jalan-jalan ama temen2 Unpad, Supir Mode: ON. Jadi aja sumber daya yang tersedia saja ketika itu harus benar-benar dimanfaatkan: sebuah Honda Tiger. Oya, FYI, rumah saya tuh adanya di daerah Bekasi. Gila! Bekasi-Meruya?! Ada ya orang yg niat melakukan perjalanan sejauh itu naik motor?! Ya ada! Buktinya saya, Gina, dan Jodi seniat itu, demi menghadiri acara teman baik kami yg minggu depan berangkat ke DC itu.

Tapi untungnya perjalanan nan jauh menggunakan sepeda motor itu tidak jadi terlaksana. Puri cukup pengertian, dia memberikan fasilitas penjemputan dengan memanfaatkan adiknya, si Hangga. Tapi, penjemputan tidak dilakukan di markas kami para orang Bekasi, tapi di daerah yg rada-rada tengah: Hotel Atlet Senayan (emang udah sejak dulu Hotel Atlet selalu jadi meeting point kami).

Jadilah perjalanan menggunakan sepeda motor hanya dilakukan dari Bekasi ke Senayan. Hanya? Ternyata lumayan jg tuh Bekasi-Senayan naik motor. Yang bikin rada cape adalah saya harus mengimbangi  Jodi yang bawa skuter Vespa-nya yg kalo saya perhatiin ga pernah jalan lebih dari 60km/jam. Nah, pegel bener kan jadinya. Bayangkan, ada Tiger baru tp cm jalan di bawah 60km/jam! Dan itu tuh di jalanan Jakarta yang relatif masih sepi secara msh tersedot long weekend di daerah penghuninya. Pemandangan yang aneh.

Oke lah, skip the intro. Jadi saya ingin menceritakan kejadian-kejadian yang terjadi dalam perjalanan rumah saya menuju Hotel Atlet sambil menunggangi Honda Tiger baru. Jadi perjalanan sore itu adalah pertama kalinya Saya melakukan perjalanan di atas 20km menggunakan motor kopling.

Di Bandung saya pakai Karisma 125 (saya dan teman-teman memanggilnya Isma, tp tidak ada kaitannya dengan Ishma Fatimah) tercinta yang sudah sangat melekat dengan saya. Sejak 2004, Si Isma sudah menemani setidaknya 27000km keliling-keliling Kota Bandung dan sekitarnya (termasuk salah satu yang paling dikenang adalah tengah malam menemani ke UGD Imannuel dengan step miring, stang bengkok, dan bibir pecah). Jadi, saya sudah sangat hafal bagaimana perilaku Isma dan tau benar gmn cara menjinakkannya.

Lain halnya dengan kejadian sabtu sore kemarin. Saya merasa masih sangat canggung dengan Honda Tiger baru si Papi. Sebelumnya sudah pernah memang, tp sebenernya itu jg cuma perjalanan pendek, beli martabak lah, atau apalah deket2 rumah. Untuk perjalanan yang cukup jauh, sore itulah pertama kalinya.

Di tengah perjalanan saya temui beberapa fakta. Pertama, ketika itu setelan gas Tiger ternyata terlalu rendah. Jadi di tengah perjalanan terutama ketika harus mendadak terhenti karena lampu merah atau angkot yang berhenti di depan secara tidak terduga, mesin motor tidak sengaja mati karena setelan gasnya rendah banget. Ah! Gampang lah pikir saya, ntar tinggal dinaikin putaran mesinnya biar jalan lebih enak.

Fakta lainnya adalah ternyata saya masih kurang nyaman membawa Tiger itu di jalanan sore kemarin. Begitu banyak hal baru yang harus dimaklumi dalam perjalanan saya sore itu. Perilaku pengguna jalan Jakarta adalah salah satunya. Terbiasa dengan perilaku pengendara di Bandung yang lebih beradab, saya sedikit gugup berada di jalanan Jakarta dengan pengendara yang ternyata lebih tidak jinak dan amat sangat terburu.

Lalu, saya akhirnya mengalami apa yang santer diberitakan media sejak minggu2 lalu: Jalan rusak di Jakarta. Benar ternyata, jalan bolong di mana-mana. Dan benar juga kalau kurang ati2, sungguh berbahaya terutama bagi para motoristas. Alhasil, laju harus diperlambat dengan lebih banyak memperhatikan kondisi jalan.

Hal lainnya yaitu saya masih belum bisa menemukan keseimbangan yang paling enak dalam menggunakan Tiger baru ini. Lain halnya dengan Isma yang sudah saya tau luar dalam, lagi lagi banyak hal yang harus dimaklumi saat saya menggunakan Tiger ini.

Satu hal yang saya pelajari dari perjalanan sore itu bahwa yang terpenting adalah PROSES PEMAKLUMAN DAN ADAPTASI. Saya mungkin sudah sangat nyaman dengan motor saya si Isma yang di Bandung dan saya juga sudah sangat terbiasa dengan jalanan Bandung beserta pengendara dan perilakunya masing-masing. Menggunakan motor baru untuk pertama kali dengan lingkungan serta medan yang baru pula tentu sedikit banyak mengintimidasi Saya dalam perjalanan itu.

Namun, beruntung saya diberkahi hati serta pikiran. Saya merasa perbedaan-perbedaan yang saya temui antara perjalanan menggunakan motor di Bandung dengan di Jakarta masih dapat dimaklumi. Dan tentunya saya sebagai makhluk yang diberikan pikiran oleh Sang Khalik masih bisa melakukan berbagai kerekayasaan untuk menjembatani perbedaan-perbedaan tersebut.

Mengubah setelan putaran mesin, membiasakan diri dengan perilaku pengendara serta lebih berhati-hati menghadapi jalan yang rusak merupakan beberapa hal yang dapat saya lakukan dalam memaklumi perbedaan kebiasaan. Saya tentu tidak akan bisa memaksakan kebiasaan serta cara lama dengan si Isma di Bandung dengan Tiger di Jakarta. Wong motornya aja udah beda, lingkungan udah beda, medan tempuh pun berbeda. Masa mau dipaksakan untuk sama?

Ketidaknyamanan, kecanggungan, serta konflik diri merupakan beberapa hal yang pasti timbul dalam situasi seperti itu. Namun, bukan berarti saya harus berontak dan keluar dari sistem yang baru itu. Keluhan, komplain, serta keputusasaan tidak akan berhasil mengantarkan saya dari Bekasi ke Senayan. Betul?

Bukankah menjalani kehidupan ini tidak beda halnya dengan perjalanan saya sore itu? Memiliki teman baru, pacar baru, keluarga baru, lingkungan baru, pekerjaan baru menantang saya untuk melakukan yang tadi saya sebut sebagai PROSES PEMAKLUMAN DAN ADAPTASI. Orang lain mungkin tidak akan bisa berpikir, berujar, serta bertindak seperti yang saya mau dan bahkan bertentangan dengan apa yang biasa saya lakukan. Namun, apakah berarti saya langsung berontak? Mencoba mengubah orang di sekitar saya? Atau malahan saya langsung kabur keluar dari sistem? Sungguh tidak bijak bila saya melakukan itu.

Benar halnya kata Haruki Murakami dalam novelnya yang berjudul Norwegian Wood melalui seorang tokohnya Nagasawa. Ketika itu, Nagasawa berkata bahwa dia hanya ingin menjajal kemampuannya di dunia yang luas ini. Menanggapi hal tersebut bertanyalah Watanabe, “Jadi tidak ada juga apa yang disebut idealisme?”

“Tentu saja tidak,” jawab Nagasawa. “Dalam hidup tidak perlu hal seperti itu. Yang diperlukan bukan idealisme melainkan etika dalam bertingkah-laku.”

Setuju sekali saya dengan Haruki Murakami bahwa bukan idealisme yang dibutuhkan. Fleksibilitas yang dibahasakan sebagai etika dalam bertingkah-laku merupakan rahasia umum dalam menyiasati perbedaan dan perubahan yang terjadi dalam hidup.

Pernah seorang bijak bilang bahwa “satu hal yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri”. Suka atau tidak suka, nyaman atau tidak nyaman, perubahan pasti terjadi. Menyikapi perubahan tersebutlah yang akan menunjukkan derajat kedewasaan saya.

Ya! Adaptasi, kompromi, pemakluman, serta fleksibilitas merupakan jurus-jurus ampuh yang harus terus saya asah dalam menjalani kehidupan ini. Karena tidak selamanya segala sesuatu berjalan seperti yang saya mau. Dan tentunya tidak selamanya pula yang saya mau adalah yang benar-benar saya butuhkan. Belajar belajar serta belajar. Life is 'bout learning, dude!!!


(Maafkan kalau berantakan, nampak masih banyak perlu penyuntingan. Soalnya langsung nulis aja yang ada di pikiran)


Blog Entrythese quotes [part I]Mar 21, '08 9:41 AM
for everyone
"Kematian bukan lawan kehidupan... tetapi ada sebagai bagiannya."

"Yang diperlukan bukan idealisme melainkan etika dalam bertingkah-laku."

"Tidak ada orang yang suka kesendirian. Hanya saja aku tidak memaksakan diri mendapat teman. Kalau memaksakan diri yang didapat hanya kekecewaan."


Haruki Murakami
[Norwegian Wood]
Released on 1987

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help